Pages

Senin, 01 Februari 2016

EKSTERNALITAS DAN HAK KEPEMILIKAN




Kita telah melihat bagaimana peraturan pemerintah dapat mengendalikan kondisi inefisiensi yang timbul dari faktor eksternalitas. Sistem – sistem emission fee dan transferable emissions permit bekerja karena kedua sistem tersebut merubah tingkatan insentif bagi perusahaan – mendorong perusahan memperhitungkan unsur-unsur biaya eksternal yang bisa dihadapinya. Tetapi peraturan pemerintah tidak hanya menangani faktor eksternalitas saja.
A.     Hak Kepemilikan
Hak kepemilikan merupakan bentuk – bentuk peraturan hukum yang mengijinkan orang – orang atau perusahaan – perusahaan untuk mengelola harta mereka. Orang – orang dapat membangun bangunan di atas tanah miliknya ataupun menjual tanah tersebut kepada orang-orang lain dengan terlindungi dari intervensi pihak lain.
Asumsikan bahwa suatu perusahaan memiliki hak kepemilikan untuk menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan limbah, dan bahwa pihak nelayan tidak memiliki hak kepemilikan diatas air yang “bebas limbah”.
Hasilnya, perusahaan tidak memiliki insentif untuk memperhitungkan biaya atas limbah ke dalam kalkulasi produksinya. Tetapi, misalkan nelayan memiliki hak kepemilikan atas sungai tersebut, yaitu hak kepemilikan atas air bersih, maka perusahaan bisa dikenakan biaya karena membuan limbah ke sungai itu.
Perusahaan karenanya akan menghentikan produksi atau membayar beban biaya yang berhubungan dengan limbah. Biaya – biaya ini dapat bersifat internal, dan bentuk alokasi sumber daya secara efisien dapat dicapai.
B.     Kekuatan Daya Tawar dan Efisiensi Ekonomi
Efisiensi dapat dicapai tanpa adanya intervensi pemerintah saat faktor eksternalitas mempengaruhi secara relative sejumlah pihak serta saat hak kepemilikan terspesifikasi secara baik. Misalkan, limbah dari pabrik baja mengurangi profit dari nelayan. Seperti pada tabel 4.1. Pabrik tersebut dapat menginstal suatu sistem penyaring untuk mengurangi kadar limbahnya, atau pihak nelayan dapat menanggung biaya instalasi atas pabrik pemelihara kebersihan air.
Solusi paling efisien memaksimumkan profit bersama antara pihak pabrik dan pihak nelayan. Kondisi ini terjadi saat pihak pabrik menginstal penyaring dan pihak nelayan tidak membangun pabrik pemeliharaan.








Tabel 4.1 Profit berdasarkan alternative emisi pilihan. (Harian)

Profit bagi
pabrik
($)
Profit bagi nelayan
($)
Total
Profit
($)
Tanpa penyaring,tanpa pabrik pemeliharaan
Ada penyaring, tanpa pabrik pemeliharaan
Tanpa penyaring, ada pabrik pemeliharaan
Ada penyaring, ada pabrik pemeliharaan
500
300
500
300
100
500
200
300
600
800
700
600

Tabel 4.2 Daya Tawar dengan Alternatif Hak Properti

Hak Untuk
Membuang limbah
Total profit
Tanpa kerjasama
Profit bagi pabrik
Profit bagi nelayan
Dengan kerjasama
Profit bagi pabrik
Profit bagi nelayan

$500
$200

$550
$250

$300
$500

$300
$500

Misalkan pabrik memiliki hak kepemilikan untik membuang limbah ke sungai. Pada awalnya, pihak nelayan memiliki profit $100 dan pabrik memiliki profit $500. Dengan mengistal pabrik pemeliharaan kadar air, nelayan dapa meningkatkan profitnya sampai $200, sehingga nilai profit bersama tanpa adanya kerjasama adalah $700 ($500+$200). Lebih jauh, nelayan bersedia membayar $300 kepada pabrik untuk membantu penginstalan sistem penyaring( $300 adalah nilai perbedaan antara profit $500 dengan penyaring dan profit $200 tanpa ada kerjasama). Karena pabrik hanya kehilangan profit $200 untuk mengistal penyaring, pabrik akan bersedia melakukanya jika jika upaya tersebut dapat mengimbangi atau menutupi kerugian itu. Keuntungan bagi kedua pihak dengan kerjasama tersebut adalah sama dengan $100 dalam hal ini (keuntungan $300 bagi nelayan dikurangi biaya penyaring $200).
Misalnya pabrik dan nelayan besedia membagi keuntungan ini secara seimbang dimana masing masing membayar $250 untuk menginstal penyaring. Seperti ditunjukkan tabel 4.2, solusi bargaining ini mencapai hasil keluaran (outcome) yang efisien. Pada kolom “hak membuang limbah” (right to dump) terlihat bahwa tanpa kerjasama pihak nelayan memperoleh profit $200 dan pabrik $50. Sekarang misalkan pihak nelayan punya hak kepemilikan atas air bersih, yang mensyaratkan pabrik menginstal penyaring. Pabrik memperoleh profit $300 dan nelayan $500. Karena tidak ada pihak yang dapat melakukan penawaran (bargaining) atau negosiasi, hasil keluaran awal adalah efisien.
Analisis ini teraplikasi untuk semua tipe situasi dimana hak kepemilikan secara baik dispesifikasikan. Saat pihak-pihak dapat bernegosiasi tanpa biaya dan mengarah pada keuntungan mereka secara bersama, keluaran yang dihasilkan akan efisien, terlepas dari bagaimana hak kepemilikan dispesifikasikan. Dalil yang ditulis miring tersebut Coase theorema, menghargai Ronald coase yang mengembangkanya.

C.    Daya Tawar Yang Mahal – Peranan Dari Perilaku Strategik
Proses daya tawar (bargaining) atau negosiasi dapat membutuhkan waktu yang panjang dan menelan biaya besar, khususnya saat hak kepemilikan tidak secara jelas dispesifikasikan. Kemudian tidak satupun pihak yang pasti seberapa berat untuk bernegosiasi sebelum pihak yang lain akan mencapai kesepakatan. Dalam contoh sebelumnya, kedua belah pihak tahu bahwa proses negoisasi harus memutuskan mengenai nilai pembayaran antara $200 dan $300. Jika kedua pihak tidak yakin atas hak kepemilikan, bagaimanapun, pihak nelayan bisa bersedia membayar hanya sebesar $100, dan proses negoisasi akan macet.
Penawaran juga dapat macet bahkan jika proses komunikasi dan monitoring adalah tidak membutuhkan biaya, jika kedua pihak percaya bahwa mereka dapat memeproleh keuntungan yang lebih besar. Satu pihak mensyaratkan untuk bagian yang besat dan menolak bernegosiasi, dengan mengasumsikan secara tidak tepat bahwa pihak lain akan secara nyata menyetujuinya. Perilaku strategik ini dapat mengarah pada keluaran yang tidak efisien dan tidak kooperatif. Misalkan pihak pabrik memiliki hak untuk membuang limbah dan mengklaim bahwa ia tidak akan menginstal penyaring kecuali jika ia menerima $300, dan penawaranya tersebut sudah final. Namun pihak nelayan menawarkan untuk membayar maksimum $250, dengan meyakini bahwa sebenarnya pihak pabrikakan setuju dengan solusi “adil” tersebut.dalam situasi ini, satu kesepakatan tidak akan tercapai, khususnya jika satu atau kedua pihak ingin ingin memperoleh reputasi melalui proses negosiasi yang a lot.

Sumber daya Milik Umum
Biasanya faktor eksternalitas timbul saat sumber daya – sumber daya dapat digunakan tanpa biaya. Sumber daya milik umum merupakan sesuatu yang dapat diperoleh setiap orang secara gratis. Akibatnya, sumber daya tersebut akan dimanfaatkan akan dimanfaatkan secara berlebihan. Air dan udara merupakan dua contoh paling umum dari tipe sumber daya ini.
Sumber daya asset umum (common property resource), seperti usaha perikanan atau penangkapan ikan, menjadi terbuka bagi semua unsur biaya, sumber daya tersebut digunakan sampai titik Fc dimana nilai biaya privat (privat cost) adalah sama dengan nilai penghasilan tambahan (additional revenue) yang dihasilkan. Tingkatan penggunaan sumber daya ini adalah melebihi level efisien F* dimana nilai biaya sosial marjinal dari upaya penggunaan sumber daya tersebut adalah sama dengan nilai manfaat marjinal (marjinal benefit) (dengan kurva permintaan yang dianggap tetap.


Gambar 4.11 kurva sumber daya asset umum

Misalkan satu danau penuh dengan ikan trout, dimana pihak nelayan dapat mengambilnya dalam jumlah yang tidak terbatas. Setiap nelayan akan memancing sampai titik dimana nilai pendapatan marjinal dari memancing (atau nilai marjinal, jika memancing adalah untuk olahraga ketimbang untuk mencari profit) adalah sama dengan biaya. Tetapi danau adalah sumber daya milik umum dan tidak satupun nelayan yang memiliki insentif untuk memperhitungkan bagaimana aktifitas memancing mereka memengaruhi peluangbagi para nelayan yang lain. Akibatnya biaya pribadi dari nekayan mengabaikan biaya sesungguhnya bagi masyarakat karena aktifitas memancing yang lebih sering akan mengurangi persediaa ikan bagi pihak yang lain. Hal ini mengarah pada kondisi inefisiensi terlalu banyak ikan yang ditangkap.
Gambar 4.11 Mengilustrasikan bahwa aktifitas pemancingan ikan adalah cukup kecil secar relative terhadap nilai permintan, sehingga nelayan memperoleh “harga” ikan sebagaimana adanya. Misalkan seseorang dapat mengontrol jumlah nelayan yang memiliki akses ke danau itu . level efisien dari ikan perbulan F* ditentukan pada titik dimana nilai manfaat marjinal dari aktifitas penangkapan ikan adalah sama dengan biaya sosial marjinal. Nilai manfaat marjinal adalah harga yang ditentukan dari kuva permintaan. Biaya sosial marjinal ditunjukkan di dalam diagram untuk mencakup tidak hanya biaya operasional pribadi si nelayan tetapi juga biaya sosial karena mengurangi persediaan ikan.
Sekarang pebandingan keluaran efisien dengan apa yang terjadi ketika dana tersebut milik umum. Maka, unsur – unsur biaya eksternal marjinal tidaklah diperhitungkan, dan setiap nelayan memancing sampai tidak ada profit yang diperoleh. Hanya saat ikan ditangkap F*, pendapatan dari memancing adalah lebih besar dari biaya , dan terdapatnya profit untuk diperoleh dengan memancing lebih sering. Mulainya bisnis pemancingan terjadi sampai titik dimana tingkat harga adalah sama dengan biaya marjinal. Titik Fc dalam gambar 4.11. tetapi, pada Fc terlalu banyak ikan yang akan ditangkap.
Terdapat solusi yang sangat sederhana mangenai persoalan sumber daya milik umum biarkan seorang pemilik tunggal mengolah sumber daya tersebut. Pemilik akan menetapkan fee bagi penggunaan sumber daya tersebut yang mana sama dengan biaya marjinal karena adanya fee, nelayan secara agregat tidak lagi menemukan bahwa adalah menguntungkan bagi dirinya untuk menangkap lebih banyak atau memancing lebih sering lebih dari F* ikan. Sayangnya kebanyakan sumber daya milik umum adalah beragam, dan bentuk kepemilikan tunggal tidak bisa dipraktikkan. Maka bentuk kepemilikan oleh pemerintah ataupun bentuk peraturan pemerintah secara langsung bisa diperlukan.


 












Gambar 4.12 Kurva Produk Udang Karang (Crayfish) Sebagai Sumber Daya Aset Umum